Cas Handphone Menggunakan Air Kencing

Daya baterai anda kurang atau sedang lowbat? ini solusinya.

Komponen seperti baterai merupakan sumber energi listrik yang sering digunakan masyarakat untuk menjalankan peralatan elektronik yang sangat efektif dan efisien. Namun, kenyataannya tidak sedikit baterai bekas yang tidak dikelola dengan baik dan dibuang begitu saja sebenarnya dapat mengakibatkan pencemaran dan kerusakan lingkungan yang berbahaya bagi manusia dan mahluk hidup lainnya.

Di tengah keterbatasan sumber energi listrik itu, ada empat mahasiswa berasal dari ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) di Surabaya, mereka terus berupaya dan meneliti energi alternatif yang mungkin dan ramah lingkungan serta dapat diperbaharui. Mereka adalah Arfiansyah Galih Saputra, Achmad Rifqi Rosyadi, Putri Ika Wahyu, dan Anastasia Erina.

Mereka semua berasal dari jurusan teknik mesin. Akhirnya mereka menemukan dan mampu mengubah urine menjadi sumber listrik. Alat itu mereka beri nama HUBE-CELL.

Arfiansyah mengatakan, dirinya dan rekan-rekannya melakukan percobaan itu setelah melakukan studi literatur. Data yang dikumpulkan pada air seni, selain mengandung 95 persen air, ternyata 5 persen urine manusia adalah elektrolit yang mengandung klorida, sodium, dan potasium. "Kandungan elektrolit inilah yang akan dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik alternatif yang ramah lingkungan," terangnya.

Awalnya mereka mempersiapkan pengambilan sampel urine yang akan digunakan pada rangkaian HUBE-CELL. Urine diambil dari beberapa sampel milik laki-laki dan perempuan.

Sampel itu kemudian diteliti untuk dipilih yang mengandung sumber listrik paling tinggi. Pengukurannya menggunakan multitester.

Dari pengambilan data itu terdapat data besaran voltase dan arus pada setiap sampel. Pengambilan data dilakukan dengan selang waktu tiap satu jam selama 10 jam. Setelah itu, baru dipilih sampel urine yang menghasilkan tegangan paling tinggi untuk menyalakan dua buah lampu LED.

Berdasar hasil pengujian, urine memiliki tegangan rata-rata 600 milivolts. Sampel itu lalu dirangkai dan disambungkan dengan alat HUBE-CELL untuk mendapat tegangan yang lebih besar sehingga dapat digunakan untuk menyalakan LED dengan tegangan 3 volt, ini setara dengan dua buah baterai kering ukuran AAA dua buah dihubungkan secara seri.

Dari percobaan itu, mereka menyimpulkan bahwa volume elektrolit pada urine bisa dimanfaatkan sebagai alternatif sumber listrik. "Harapannya dapat menghemat penggunaan listrik sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dalam skala kecil," jelasnya.

Arfiansyah menyatakan tengah mengkaji ulang hasil temuannya itu. Dia berencana melakukan penelitian dengan sampel yang lebih besar. Dengan demikian, sumber tenaga dalam listrik bisa lebih dimanfaatkan seperti zat metana pada feses atau kotoran manusia yang digunakan untuk biogas.

Dia menambahkan, saat ini pihaknya menggarap sumber listrik itu agar bisa digunakan di mana saja alias portabel.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...